** Mengapa? Simak dengan sabar kisah pengalaman dan paparan
menarik dari seorang Ibu yang dokter. **
Malik tergolek lemas. Matanya sayu. Bibirnya pecah-pecah. Wajahnya kian tirus.
Di mataku ia berubah seperti anak dua tahun kurang gizi. Biasanya aku selalu
mendengar celoteh dan tawanya di pagi hari. Kini tersenyum pun ia tak mau.
Sesekali ia muntah. Dan setiap melihatnya muntah, hatiku ...tergores-gores
rasanya. Lambungnya diperas habis-habisan seumpama ampas kelapa yang tak lagi
bisa mengeluarkan santan. Pedih sekali melihatnya terkaing-kaing seperti itu.



